Wednesday, December 22, 2010

HAKIKAT PECINTA ALAM

Alam dengan segala pesona keindahannya, merupakan satu bentuk bukti nyata kekuasaan Tuhan yang patut dan harus kita syukuri. Langit biru, lautan yang luas, gunung yang menjulang tinggi, awan yang berarak, hutan yang penuh pepohonan, air yang mengalir di bebatuan, kabut yang menutupi jurang dan lembah, memberikan media bagi jiwa manusia untuk dekat dengan "Sang Kebenaran Mutlak", hanya karena mereka ( alam ) mempunyai aura tersendiri yang memancarkan kodrat ilahi.

Pecinta Alam jika diuraikan, berasal dari kata Cinta dan Alam. Cinta mengandung arti menyukai, menyayangi, dan mengagumi. Dari kata Cinta menjadi Pecinta menunjuk kepada subyek yaitu orang. Sedangkan Alam mengandung arti segala yang ada di sekitar, baik berupa benda mati maupun benda hidup. Sehingga secara harfiah, Pecinta Alam dapat diartikan sebagai Seseorang yang menyukai, menyayangi dan mengagumi segala yang ada di sekitar, baik berupa benda mati maupun benda hidup. Sedangkan secara Istilah, sampai saat ini belum ditemukan definisi yang jelas tentang Pecinta Alam. Sebab kata Pecinta Alam itu sendiri mengandung pengertian yang sangat luas.

Meskipun belum ada yang bisa merumuskan istilah Pecinta Alam, namun jika  dilihat dari tujuannya dapat dibedakan menjadi beberapa kelompok.

Kelompok Pertama
Kelompok yang hanya menggeluti kegiatan alam bebas dengan tujuan untuk menyalurkan hobby dan minat bertualang di alam bebas. Kegiatan mereka meliputi pendakian gunung, mengarungi jeram di sungai, pemanjatan tebing, menyusuri kedalaman dan kegelapan gua, mengeksplorasi keindahan bawah laut. Dll.

Kelompok Kedua
Kelompok yang selain melakukan kegiatan petualangan, juga melakukan kegiatan yang berorientasi pada penyelamatan lingkungan hidup. Selain bertualang mereka juga melakukan Konservasi Sumber Daya Alam, pengamatan Sosial-Ekonomi-Budaya masyarakat, hingga operasi SAR. Kelompok inilah yang paling banyak dilakukan oleh organisasi / kelompok mahasiswa pecinta alam.

Kelompok Ketiga
Kelompok yang menggeluti kegiatan alam bebas dengan misi untuk semata mata mendekatkan diri pada "Sang Pencipta". Mereka yakin bahwa menyatu dengan alam akan menuntun mereka pada ketenangan jiwa dan lebih dekat kepada Zat Yang Maha Mencita.

Kelompok Keempat
Kelompok yang hanya latah dan ikut - ikutan saja, mereka menjadi pendaki gunung hanya untuk gagah - gagahan saja. Sehingga mereka tidak mendapatkan apa - apa dari perjalanannya, selain hanya tubuh yang lelah dan pakaian yang kotor, bahkan banyak dari mereka yang menjadi bagian dari Perusak Alam.

Namun, apakah istilah Pecinta Alam itu hanya untuk mereka yang melakukan petualangan di alam bebas?
Apakah istilah Pecinta Alam itu hanya untuk mereka yang telah mengikuti program pendidikan dan latihan dasar dalam sebuah organisasi? 
Seorang yang menyapu jalan, Seorang yang menanam mangrove di pinggir pantai, Seorang yang mengobati kucing yang terluka, Seorang yang memberikan santunan kepada fakir miskin, bisakah mereka disebut Pecinta Alam?

Jadikanlah apa yang kita jalani selama ini bukan hanya sebagai keisengan atau hobby semata, tapi jadikanlah menjadi jalan untuk lebih mendekatkan diri kepada-Nya dan menjadi jalan hidup kita.

Tuesday, May 18, 2010

Kenapa Berpetualang?


Ada satu kata yang kian populer di media cetak beberapa tahun terakhir ini. Sayangnya, kata itu sebetulnya bentuk yang salah kaprah. Yang saya maksud adalah kata berpetualang!
Kata berpetualang telah menggeser kedudukan kata yang kaprah, yakni bertualang. Tidak percaya? Menurut penelitian ”Profesor” Google (15 Juli 2008), berpetualang terdapat dalam 248.000 dokumen, sedangkan kata bertualang hanya dalam 60.600 dokumen.
Anehnya, berpetualang tidak hanya digunakan orang tak berpendidikan. Orang berpendidikan tinggi pun ikut larut dengan berpetualang. Simak saja kutipan berikut. ”Berpetualang untuk Berpromosi” judul berita Kompas, 2 Desember 2005. ”Di sana, anak-anak bisa diajak berpetualang di alam terbuka sambil belajar bercocok tanam dan kegiatan lain yang sulit dilakukan di daerah perkotaan” pada Kompas, 12 Juli 2008. ”Suatu kali, saya bisa ikut bersama Harry Potter berpetualang dengan bubuk floo, melawan sihir Voldemort ….” pada Matabaca, Desember 2005.
Janganlah kaget, kutipan terakhir berasal dari penulis berpendidikan S-3. Namun, kalau kita tanya apa arti berpetualang, pemakai kata itu mungkin akan bingung sendiri. Kenapa? Kata berpetualang tak kita temukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Pusat Bahasa) atau Kamus Umum Bahasa Indonesia (Badudu—Zain) atau Tesaurus Bahasa Indonesia (Eko Endarmoko).
Kata yang tercatat dalam kamus adalah bertualang, yang berasal dari akar kata tualang. Kata bertualang menurut KBBI Edisi Ketiga bermakna ’mengembara ke mana-mana’, ’selalu pergi ke mana-mana’. Tualang sendiri berarti ’beterbangan tidak keruan’ dan ’tidak tentu tempat tinggalnya (berkeliaran)’. Orang yang bertualang disebut petualang.
Proses pembentukan kata bertualang sama dengan berdagang dan berjuang. Kedua kata terakhir berasal dari akar kata dagang dan juang ditambah dengan awalan ber-. Selanjutnya, orang yang berdagang disebut pedagang, orang yang berjuang disebut pejuang. Kita hampir tak pernah mendengar atau membaca kata berpedagang atau berpejuang. Yang sering muncul hanya berpetualang dan frekuensinya sangat tinggi. Ini sudah terbukti dengan hasil penelitian ”Profesor” Google.
Kenapa muncul bentuk berpetualang? Saya menduga karena dua hal. Pertama, karena ketidaktahuan saja. Orang tak tahu bahwa berpetualang salah kaprah sehingga dipakai terus-menerus. Kedua, mungkin orang menganggap proses pembentukan kata itu sama dengan kata berpedoman dan berpengaruh. Kedua kata terakhir ini memang berasal dari kata pedoman dan pengaruh. Namun, haraplah diingat, kedua kata ini merupakan kata dasar yang mendapat awalan ber-.
Tidak demikian halnya dengan berpetualang. Memang berpetualang berasal dari petualang dan awalan ber-. Hanya saja kata petualang bukan kata dasar, seperti pedoman dan pengaruh. Kata petualang merupakan turunan dari tualang dan awalan pe-.
Pada hemat saya kita harus menghentikan petualangan kata berpetualang. Kalau Anda ingin bertualang, silakan saja, tetapi jangan bilang berpetualang.